Romzi Hermansyah Kritik Proses Penempatan Jabatan Oleh Wali Kota Metro Yang Di Nilai Carut Marut, Berdampak Tatanan Birokrasi Yang Tidak Sehat
Kota Metro–DigitalMedia.ID–Banyaknya kursi jabatan yang kosong di lingkungan Pemerintah Kota Metro, di era kepemimpinan Bambang –Rafieq terkesan tak memahami regulasi ke efektifan roda birokrasi yang baik dan timbulkan persepsi “Penentu Jabatan bukan Wali Kota” tetapi banyaknya oknum terdekatnya yang membisiki.
Jurnalis Muda Asal Kota Metro, Jebolan LSPR Angkatan Ke II 8 tahun silan, Romzi HErmansyah mengatakan, hal menarik dari awal memimpin, Bambang – Rafieq membuat kejutan yang banyak tidak terduga, lucunya pejabat yang diberi mandat Plt, justru kebingungan dan tidak tahu. “Kesankan tanda tangan berkas kosong pengisian jabatan”.
“Banyak kursi jabatan kosong dibiarkan dengan posisi Plt, selter jabatan di cicil untuk dilelang. Tentu jadi tanya, kenapa harus di cicil lelang jabatan ? dan kenapa harus banyak jabatan Plt, itupun kebanyakan personal yang di tunjuk Plt kebanyak tidak siap dan bahkan bingung.” Katanya.
Masih kata Romzi, kerusakan tatanan birokrasi pemerintahan kota metro, dimulai dari penempatan jabatan Pj Sekda Bayana, dalam waktu satu bulan 3 kali pergantian SK Plt Sekda. Pemutasian terhadap Sekda Definitif Ir.Bangkit Haryo Utomo pun, patut di uji kembali kepatutannya dan mengangkat Plt yang kemudian 10 hari di Pj kan ?
Lucunya, penempatan SK Plt untuk Kepala Bagian Umum Sekretariat Pemkot Metro, berganti dalam kurun waktu cepat, bahkan baru seminggu ada Plt, dengan mudahnya di ganti kembali Plt baru. Terkesan, agar mulus dalam merancang kebutuhan rumah tangga dinas dan keperluan unsur pimpinan sampai pada kepentingan ajudan, Pemborosan Anggaran jadi nya.?
“Memang benar bahwa, rolling mutasi jabatan bentuk dari penunjang karir pengalaman ASN itu sendiri, dan memang ASN siap di tugaskan dimana saja. Tetapi jangan sekonyong konyong, mudah mengikuti bisikan ajuan dari orang-orang terdekatnya yang hanya cari kepentingan.”Pungkasnya.
Selain penugasan Plt Kadisporapar, penempatan jabatan juga sangat kurang apik dan kepatutannya. Basic dokter di Plt-kan mengurusi soal taman, lapangan, dan para regu olahraga? Apakah menggunakan resep obat 3×1 hari agar taman sehat dan bugar, lapangan kuat, dan para regu olahraga harus cek up kesehatan agar terjaga kesehatannya..?
Terbaru, Basic pengalaman administratif pemerintahan dan ilmu politik, di tugaskan sebagai Plt yang mengurusi resep resep obat, program kesehatan dan lainnya menyangkut kesehatan masyarakat.
Artinya, sah sah saja menempatkan jabatan dimana pun, namun perlu dicatat bahwa : Penempatan jabatan PNS idealnya disesuaikan dengan prinsip right man and the right job, berdasarkan kompetensi, keahlian dan pengalaman kerja atau basis pengalaman. Bukan semata-mata didasari pada golongan atau pangkat. Hal ini guna meningkatkan produktivitas organisasi, jangan juga asal tunjuk Plt atau asal undang untuk dilantik !.
Maka itu, pengangkatan dalam jabatan harus didasari pada perbandingan objektif antara kualifikasi kompetensi, pengalaman dan persyaratan jabatan. Kompetensi itu kualifikasi pendidikan, pengalaman dan keahlian. Sementara golongan hanya bentuk cerminan tingkat pendidikan formal.
Penting dalam kompetensi bagi ASN memiliki kompetensi teknis, managerial dan sosial kultur yang sesuai dengan kebutuhan jabatan, termasuk management talenta dengan potensi tinggi. Artinya didasari pada kinerja dan kesesuaian pengalaman dalam menduduki jabatan target.
“Lah misal, yang awal terdedikasi dari bagian tata pemerintahan di tugaskan ke Bagian Umum, Korelasinya kemana? Kenapa tidak ambil dari bagian organisasi saja ?” seorang dokter di tugaskan kepariwisataan, kepemudaan dan olahraga, dan basic dadikasi pengalaman administratif pemerintahan di Plt kan mengurusi pelayanan kesehatan, program kesehatan dan lain lain, sampai mengurusi berkas layanan BPJS?”
“Lantas, mutasi penempatan jabatan itu sudah benar benar mempertimbangkan jabatan dan analisis beban kerja atau belum ? kenapa demikian, karena jika berdasarkan pengalaman dapat membantu memastikan pelaksanaan pekerjaan lebih efektif dan mencapai hasil memuaskan. Jadi jangan asal. Pak Wali Kota Bambang Iman Santoso, mustinya bisa lebih memperhatikan ini dan membenahi segera, agar menunjang program visi misi selama memimpin Kota Metro.” Tegasnya. (Red)





